Bukittinggi — Di sebuah ruang belajar yang sederhana di Kota Bukittinggi, suasana tak sekadar dipenuhi deret kursi dan papan tulis. Siang itu, ruang tersebut menjadi arena pergulatan gagasan: antara iman, ilmu, dan masa depan teknologi. Para kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang tengah mengikuti Darul Arqom Madya duduk melingkar, mendengarkan satu tema yang terasa jauh sekaligus mendesak — Falsafah Artifisial Inteligens.
Materi ini bukan sekadar membahas mesin yang bisa berpikir, melainkan manusia yang bisa kehilangan arah. Pemateri membuka diskusi dengan pertanyaan tajam: apakah teknologi hanya alat, atau ia telah menjadi kekuatan yang membentuk cara manusia memahami dunia?
Pertanyaan itu menggantung di udara, memancing diskusi yang mengalir serius. Para kader tidak hanya mencatat, tetapi menggugat. Mereka membahas bagaimana algoritma dapat memengaruhi kebenaran, bagaimana kecerdasan buatan bisa membentuk opini publik, hingga bagaimana nilai kemanusiaan harus tetap berdiri di tengah dominasi mesin.
Forum Darul Arqom Madya yang selama ini dikenal sebagai ruang pemurnian ideologi kader, hari itu menjelma menjadi ruang refleksi peradaban. Teknologi tak lagi dilihat sebagai kemajuan semata, melainkan sebagai arena baru perjuangan moral dan intelektual.
Seorang peserta menyampaikan bahwa kader IMM tidak boleh hanya menjadi konsumen teknologi. “Jika algoritma membentuk cara manusia berpikir, maka kader harus hadir sebagai penjaga nilai,” ujar kader asal Bengkulu dalam diskusi.
Sesi berlangsung dinamis, diselingi tanya jawab kritis dan perdebatan sehat. Ketika materi usai, penyerahan sertifikat kepada pemateri menjadi simbol sederhana dari sebuah pertemuan gagasan yang lebih besar: pertemuan antara tradisi intelektual Islam dan tantangan zaman digital.
Darul Arqom Madya di Bukittinggi hari itu meninggalkan pesan kuat — bahwa perjuangan kader bukan hanya di jalanan atau ruang advokasi, tetapi juga di ruang-ruang pemikiran, tempat masa depan manusia dan teknologi sedang dirumuskan

Posting Komentar